Showing posts with label tour sumatera barat. Show all posts
Showing posts with label tour sumatera barat. Show all posts

Wednesday, April 17, 2013

Tugu Pahlawan Tak Dikenal

Tugu Pahlawan Tak Dikenal

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Tugu Pahlawan Tak Dikenal

Tugu Pahlawan Tak Dikenal - Tugu Pahlawan Tak Dikenal adalah sebuah monumen peringatan berupa tugu yang terletak di seberang Taman Monumen Bung Hatta atau beberapa meter dari Jam Gadang di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Monumen ini dirancang oleh seniman Huriah Adam. Tugunya berbentuk ornamen lingkaran ular naga yang dibangun di tengah sebuah bidang bundar yang dihiasi tanaman. Di puncaknya berdiri patung pemuda memegang semacam pedang. Sebelum tersambar petir, patung ini aslinya digambarkan tengah memegang bendera.

Tugu Pahlawan Tak Dikenal

Sejarah
Pada sebuah prasasti di sekitar tugu yang ada saat ini tertera: tugu ini dibangun untuk mengenang perlawanan para pahlawan yang namanya tak bisa dikenali, yang menjadi korban dalam pergolakan yang terjadi pada Juni 1908 dalam menentang diberlakukannya sistem pajak oleh Belanda. Namun demikian, monumen ini sebetulnya dibangun sewaktu pemerintah Soekarno untuk memperingati kemenangan tentara pusat dalam menundukkan PRRI di Minangkabau. PRRI merupakan sebuah gerakan yang menuntut adanya otonomi daerah yang lebih luas. Namun, gerakan ini justru dianggap sebagai sebuah pemberontakan oleh Soekarno sehingga diganjar dengan serangkaian operasi militer (pengerahan pasukan militer sewaktu PRRI ini merupakan yang terbesar yang pernah tercatat di dalam sejarah militer Indonesia). Dengan demikian, menurut sejarawan Suryadi Sunuri, monumen ini tak lain adalah "lambang penaklukan tentara pusat terhadap orang Minang". Keberadaan monumen ini terus dipertahankan sampai sekarang karena militer Indonesia memegang peran kuat di Sumatera Barat setelah PRRI berakhir, "dan tentu saja selama Orde Baru, tidak ada yang berani mencongkel-congkel monumen ini, tempat dilekatkannya lambang supremasi (tentara) pusat di Minangkabau".

Monumen ini dibangun pada tahun 1959, sesudah Bukittinggi diduduki pasukan Resimen Team Pertempuran (RTP) Brawijaya pada bulan Mei 1958, dan diresmikan pada tahun 1965. Namun, catatan lain menyebutkan, peletakan batu pertama monumen ini dilakukan oleh Jenderal Abdul Haris Nasution pada 15 Juni 1963.

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Tugu Pahlawan Tak Dikenal
Taman Sitti Nurbaya

Taman Sitti Nurbaya

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Taman Sitti Nurbaya

Taman Sitti Nurbaya - Taman Sitti Nurbaya atau Taman Gunung Padang adalah sebuah tempat berupa taman yang sangat indah di ketinggian dan ditumbuhi pepohonan rindang yang terletak di sebelah barat Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Taman ini merupakan salah satu kawasan wisata di Padang yang berada di puncak bukit di muara Batang Arau yang dikenal sebagai Gunung Padang.

Sesuai dengan namanya, sebelum sampai ke taman ini, dapat ditemukan setumpukan batu yang dipercaya sebagai makam Sitti Nurbaya, tokoh perempuan dalam novel karangan Marah Rusli berjudul Sitti Nurbaya yang diceritakan menjalin cinta dengan Samsulbahri tetapi dijodohkan paksa dengan Datuk Maringgih. Sekitar 500 meter dari kawasan ini, terdapat sebuah jembatan yang melintang di atas Batang Arau (di dekat pelabuhan Muaro) yang juga dinamakan sebagai Jembatan Sitti Nurbaya.

Taman Sitti Nurbaya

Akses
Untuk masuk ke kawasan wisata ini, pengunjung diwajibkan membayar retribusi sebesar Rp2.000 per orang. Setelah itu, pengunjung akan melalui jalan setapak dan menaiki anak tangga sepanjang sekitar 1 km yang terbuat dari semen. Di kaki bukit terdapat pula beberapa meriam sisa peninggalan pada masa penjajahan. Sebelum sampai ke puncak bukit, pengunjung dapat menemui makam Sitti Nurbaya. Setelah sampai di puncak, pengunjung dapat melihat dengan jelas pemandangan Kota Padang dan lautan yang membentang di sisinya.

Makam Sitti Nurbaya
Makam Sitti Nurbaya dapat dicapai setelah menempuh perjalanan menaiki anak tangga sepanjang sekitar 1 km, atau sekitar 100 meter lagi sebelum sampai ke puncak bukit. Kondisi tangga baik karena sudah disemen. Makam Sitti Nurbaya sendiri terletak di balik bebatuan besar dengan diameter sekitar tiga meter yang membentuk celah kecil sebagai pintu masuk.

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Taman Sitti Nurbaya
Taman Hutan Raya Bung Hatta

Taman Hutan Raya Bung Hatta

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Taman Hutan Raya Bung Hatta

Taman Hutan Raya Bung Hatta - Taman Raya Bung Hatta (TRBH) merupakan suatu kawasan cagar alam hutan primer Sumatera Barat yang berfungsi melestarikan plasma nutfah, perlindungan sumber daya alam, pendidikan dan penelitian, pembinaan cinta alam dan sekaligus sebagai tempat rekreasi. TRBH merupakan bagian Taman Nasional Kerinci Seblat. Ditetapkan berdasarkan Keppres No. 35 tahun 1986.

Luas keseluruhan kawasan meliputi 70 ribu hektar, dengan konfigurasi bentang alamnya bergelombang ringan, agak curam sampai terjal dan berbukit-bukit dengan ketinggian 300 meter sampai dengan 200 meter di atas permukaan laut.


Di dalam kawasan TRBH mengalir 14 buah sungai, beberapa di antaranya bermuara ke Padang, seperti Batang Arau, Batang Kuranji, dan Batang Air Dingin.

TRBH merupakan sebuah 'sorga' tropis yang menjanjikan dengan bentuk bentang alamnya yang bergelombang dan curam ditumbuhi oleh bermacam ragam jenis tanaman tropis yang masih asli dan dihuni oleh ratusan jenis binatang khas Pulau Sumatera.

Kondisi yang unik menjadikan kawasan ini sebagai medan jelajah dan pengamatan satwa liar. Di kawasan ini terdapat 352 jenis flora dan 170 jenis fauna yang dilindungi.

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Taman Hutan Raya Bung Hatta
Taman Nasional Kerinci Seblat

Taman Nasional Kerinci Seblat

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Taman Nasional Kerinci Seblat

Taman Nasional Kerinci Seblat - Taman Nasional Kerinci Seblat adalah taman nasional terbesar di Sumatera, Indonesia yang memiliki luas wilayah sebesar 13,750 km² dan membentang ke empat provinsi yaitu Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Taman nasional ini terletak pada koordinat antara 100°31'18"E - 102°44'01"E dan 1°07'13"S - 1°26'14"S.

Taman nasional ini terdiri dari Pegunungan Bukit Barisan yang memiliki wilayah dataran tertinggi di Sumatera, Gunung Kerinci (3.805 m). Taman nasional ini juga terdiri dari mata air-mata air panas, sungai-sungai beraliran deras, gua-gua, air terjun-air terjun dan danau kaldera tertinggi di Asia Tenggara, Gunung Tujuh.

Taman Nasional Kerinci Seblat

Taman nasional ini juga memiliki beragam flora dan fauna. Sekitar 4.000 spesies tumbuhan tumbuh di wilayah taman nasional termasuk bunga terbesar di dunia Rafflesia arnoldi, dan bunga tertinggi di dunia, Titan Arum. Fauna di wilayah taman nasional terdiri antara lain Harimau Sumatera, Badak Sumatera, Gajah Sumatera, Macan Dahan, Tapir Melayu, Beruang Madu, dan sekitar 370 spesies burung.

Diterimanya Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera ke daftar Situs Warisan Dunia oleh UNESCO, membuat Taman Nasional Kerinci Seblat juga diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Bersama dengan Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Taman Nasional Kerinci Seblat
Rumah Gadang Kampai Nan Panjang

Rumah Gadang Kampai Nan Panjang

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Rumah Gadang Kampai Nan Panjang

Rumah Gadang Kampai Nan Panjang - Rumah Gadang Kampai Nan Panjang adalah bangunan bersejarah yang terletak di Nagari Belimbing (sekitar 13 km dari Batusangkar), Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Rumah gadang ini didirikan oleh Datuk Penghulu Basa dari Suku Kampai Nan Panjang lebih kurang 300 tahun yang lalu. Sebagian besar bangunan ini belum mengalami pembaruan baik dari segi struktur maupun bahan bangunan.

Rumah Gadang Kampai Nan Panjang

Rumah Gadang Kampai Nan Panjang merupakan rumah tempat tinggal yang memiliki arsitektur bergaya khas Minang dengan atap yang bergonjong empat dan terbuat dari ijuk. Keseluruhan bangunan bagian luar terdiri dari kayu berwarna hitam. Hanya terdapat satu pintu masuk ke bagian dalam rumah dan tangganya tepat berada di tengah-tengah. Bangunan ini terdiri dari tujuh bilik (kamar), yang masing-masing berukuran 1,5 x 3 meter persegi. Biasanya rumah gadang memiliki ruangan dalam jumlah yang ganjil, bisa 5, 7 ,9 dan seterusnya, tetapi pada umumnya jumlah ruang yang ada adalah sambilan ruang. Bentuknya persegi empat dan atapnya terbuat dari ijuk. Ruangan bagian tengah rumah gadang ini merupakan ruangan terbuka tanpa sekiat dan bilik. Pintu utamanya hanya satu dan terletak di bagian tengah. Dinding bagian luar dan dalam polos tidak ada ukiran. Ruangan dalam bagian belakang merupakan bilik-bilik yang berfungsi sebagai kamar tidur. Pintu bilik berukuran oval dengan diameter sangat kecil (30 cm) sehingga untuk masuk ke dalam bilik harus membungkuk.

Seperti rumah gadang pada umumnya, rumah ini dibangun tanpa menggunakan paku. Rumah ini tidak berplafon sehingga langsung terlihat tulang-tulang yang menyusun rangka atapnya, hanya di bagian ujung sebelah kiri yang ada bagian seperti loteng tempat penyimpanan. Lantainya rata dan tidak ada anjung di bagian ujung, dilapisi bilah bambu yang bersusun-susun. Sepanjang rumah bagian belakang yang menuju kamar terdapat bagian lantai yang lebih tinggi satu anak tangga membujur serta membentuk huruf "U" ke ujung kiri dan kanan.

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Rumah Gadang Kampai Nan Panjang
Rumah Budaya Fadli Zon

Rumah Budaya Fadli Zon

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Rumah Budaya Fadli Zon

Rumah Budaya Fadli Zon - Rumah Budaya Fadli Zon diresmikan pada 4 Juni 2011. Rumah ini diresmikan oleh Fadli Zon, seorang Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Taufiq Ismail, dan Irwan Prayitno pada hari Sabtu, 4 Juni 2011. Dengan keinginan Fadli Zon untuk menjadikan Sumatera Barat sebagai "kantong budaya", maka ia mendirikan rumah budaya ini.

Rumah Budaya Fadli Zon berlokasi di kawasan ruas jalan utama yang menghubungkan Kota Padang-Bukittinggi. Keberadaan bangunan yang mengandung nilai sejarah itu, menarik banyak perhatian dan menambah koleksi bangunan bersejarah di Minangkabau. Rumah ini berdiri di atas lahan seluas 4700 m persegi.


Terdapat setidaknya lebih dari 100 keris Mi­nangkabau yang dikumpulkan dari berbagai daerah di Sumbar selama bertahun-tahun yang akhirnya di pajang di Rumah Budaya Fadli Zon di Aie Angek, Kabupaten Ta­nah Datar. Koleksi keris tersebut juga diresmikan ke­­beradaannya di Rumah Budaya pada Minggu, 21 Mei 2011.

Menurut penuturan Fadli Zon, ada 700 lebih judul buku bersejarah yang bertemakan Minang, dan barbagai koleksi peninggalan sejarah kuno, seperti Keris luk Sembilan asal Pagaruyung yang dibuat pada abad 18 songket lama, serta sejumlah lukisan kuno. Termasuk fosil kerbau berusia dua juta tahun dan fosil-fosil kayu yang telah menjadi batu yang diletakkan di Rumah Budaya tersebut.

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Rumah Budaya Fadli Zon
Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau

Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau

Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau - Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau atau biasa disingkat PDIKM adalah salah satu museum di Sumatera Barat yang terletak di Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat, Kota Padang Panjang. Museum ini bersisikan berbagai macam informasi dan koleksi mengenai kebudayaan Minangkabau baik berupa dokumentasi audio maupun visual. Museum ini dapat diakses dari jalur utama Padang–Bukittinggi, berjarak sekitar lebih kurang dua kilometer dari pusat Kota Padang Panjang.

Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau

1988–1990: Awal pendirian
Hal utama yang melatarbelakangi pendirian PDIKM salah satunya adalah adanya asumsi bahwa masyarakat Minangkabau tidak memiliki bukti-bukti sejarah tertulis yang baik, karena orang Minang terbiasa dengan budaya tutur yang diturunkan turun temurun; pada kenyataannya memang dokumentasi tentang Minangkabau lebih banyak ditemui di luar Minangkabau, misalnya di Museum Nasional Indonesia, Jakarta atau Museum Leiden, Belanda. Berangkat dari kesadaran untuk melestarikan dan mendekatkan dokumen tentang kebudayaan Minangkabau dengan orang Minangkabau itu sendiri, Bustanil Arifin, Mantan Menteri Koperasi Republik Indonesia pada masa Orde Baru, berinisiatif untuk mendirikan sebuah lembaga non-profit berupa wadah untuk menghimpun berbagai dokumen dan informasi tentang kebudayaan Minangkabau. Abdul Hamid, yang hampir sepanjang hidupnya pengabdi pendidikan di Sumatera Barat, dimintakan perhatiannya untuk menjajaki didirikannya lembaga ini, dan kemudian pada 8 Januari 1988 didirikanlah Yayasan Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (YDIKM).

Untuk pencapaian tujuannya, YDIKM mendirikan sebuah wadah yang diberi nama Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM). PDIKM sendiri bertujuan untuk memberikan informasi mengenai kebudayaan Minangkabau dan mengumpulkan berbagai macam literatur dan dokumentasi audio dan visual; seperti merekam berbagai peristiwa adat dalam bentuk film dan video, merekam lagu-lagu tradisional, hingga membuat duplikat alat-alat musik tradisional. Pada tanggal 8 Agustus 1988 dilakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan PDIKM di Padang Sarai, Kelurahan Silaing Bawah. Bangunan PDIKM didirikan di atas tanah seluas 2 Ha dengan arsitektur mengikuti bentuk Rumah Gadang, dan diresmikan pemakaiannya pada tanggal 17 Desember 1990. Sejak itu telah terkumpul 3.000 lebih dokumen lama tentang Minangkabau baik dalam bentuk reproduksi buku, naskah, kliping koran, foto maupun mikrofilm; kebanyakan terbitan sebelum tahun 1945, sebagian di antaranya masih berbahasa Belanda dan Arab Melayu.

1990–sekarang: Masa selanjutnya
Untuk memperdalam akses pengunjung terhadap isi dokumen yang dimiliki PDIKM telah dilakukan upaya penterjemahan atas naskah-naskah lama yang sebagian berbahasa Belanda dan Arab Melayu. Sebagai upaya komunikasi dan ajang pengayaan informasi diterbitkan Buletin Triwulan Simandarang dengan oplah 1.000 eksemplar yang didistribusikan pada perguruan tinggi, peneliti, dan intelektual dalam dan luar negeri.

Seiring perjalanan waktu, atas kesepakatan Yayasan Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau dengan Pemerintah Kota Padang Panjang maka pengelolaan PDIKM dialihkan dari YDIKM kepada Pemerintah Kota Padang Panjang dalam hal ini Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata. Hal ini untuk menjamin pengelolaan yang lebih baik, baik dalam hal materi, manajemen, maupun sumber daya manusia pengelolanya. Dokumen perubahan status pengelolaan ini ditandatangani pada bulan Oktober 2006 antara Walikota Padang Panjang dan Anas Nafis mewakili Yayasan DIKM. Dengan adanya PDIKM diharapkan dapat merangsang minat masyarakat umum untuk mempelajari dan menggali lagi sejarah dan nilai-nilai masyarakat Minangkabau yang masih relevan untuk diimplementasikan.

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau
Pulau Sikuai

Pulau Sikuai

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Pulau Sikuai

Pulau Sikuai - Pulau Sikuai merupakan salah satu pulau yang terletak di sisi barat pulau Sumatera. Secara administrasi pemerintahan, pulau ini masuk ke dalam wilayah kecamatan Bungus Teluk Kabung, kota Padang, provinsi Sumatera Barat, Indonesia.

Pulau ini terletak sekitar setengah mil laut dari pusat kota dan dapat dicapai dengan menggunakan transportasi laut seperti kapal, melalui pelabuhan Muara dalam waktu tempuh sekitar 45 menit dan dari dermaga Airud Bungus dalam waktu tempuh sekitar 35 menit.

Pantai di pulau Sikuai

Geografi
Pulau Sikuai memiliki luas sekitar 44.4 Ha, termasuk pulau beriklim tropis sepanjang tahun dengan pantai pasir putih dan masih memiliki hutan tropis yang alami.

Sebagai daerah tujuan wisata, pemerintah daerah setempat bekerja sama dengan pihak swasta, telah memfasilitasi pulau ini dengan hotel resort setaraf hotel berbintang dua. Sekitar 2.4 Ha dari luas pulau ini telah digunakan sebagai kawasan resort sedangkan sisanya masih berupa kawasan hutan dan pantai. Hotel resort di pulau ini menyediakan 54 buah cottage, restoran, ruangan untuk rapat, dan kolam renang, walaupun dengan tarif sewa cukup mahal, namun pengunjung dapat menikmati keindahan pantai dengan mengitari pulau atau menjelajahi hutan alam sampai panjat tebing ataupun wisata bahari. (wikipedia)

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Pulau Sikuai
Pulau Cubadak

Pulau Cubadak

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Pulau Cubadak

Pulau Cubadak - Pulau Cubadak terletak di kabupaten Pesisir Selatan, provinsi Sumatera Barat. Pulau Cubadak terletak di Kawasan Wisata Mandeh (Mande Resort), 40 kilometer di sebelah selatan Padang, dan 5 km dari pantai. Luasnya 40 km². Cubadak dapat dicapai dengan kapal dari desa Carocok. Cubadak terdiri dari hutan di mana berbagai jenis satwa hidup. Pulau ini hanya didiami beberapa keluarga nelayan dan dikelilingi batu karang.


paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Pulau Cubadak
Panorama Tabek Patah

Panorama Tabek Patah

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Panorama Tabek Patah

Panorama Tabek Patah - Panorama Tabek Patah terletak di pinggang gunung berapi antara kota Bukittinggi dan Batusangkar, Indonesia. Hawanya dingin dan sering berkabut. Bila cuaca cerah, pemandangannya sangat indah. Ada dua danau kecil yaitu Pakih dan Aie Taganang. Didanau ini terdapat ikan khas Tabek Patah oleh penduduk setempat disebut ikan Puyu


paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Panorama Tabek Patah
Pulau Keong

Pulau Keong

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Pulau Keong

Pulau Keong - Pulau Keong terletak di kabupaten Pesisir Selatan, provinsi Sumatera Barat.

Pulau Keong terletak di Taluak Sungai Bungin Kec. Batang Kapas, 80 kilometer di sebelah selatan Padang, Layangkan pandangan agak keselatan, tepat di depan ujung Bukit Pulai siapapun akan melihat keajaiban alam. Keajaiban itu adalah sebuah pulau mirip keong (molusca) sedang berjalan. Mungkin jaraknya dari pinggir Pasir Sungai Nipah sekitar 3 hingga 4 Km saja. Dapat dicapai dengan kapal dari Pantai Taluak Kasai dan bisa dari Pantai Sungai Nipah.

Masyarakat di sekitar daerah ini justeru menamakan pulau tersebut dengan Pulau Batu Nago. Bukan Pulau Keong atau sejenisnya. Pulau ini terdiri dari batu karang. Dari kejauhan terlihat mirip sekali dengan keong yang sedang melata.

Pulau Keong

Cangkang keong berada di bagian barat dan kepalanya tampak terjulur menghadap timur, dan nyaris mencium sebuah karang yang semakin dekat ke ujung Bukit Pulai. Di bagian kepalanya juga tampak seperti dilengkapi dengan aksesoris menyerupai antena keong.

Bagi masyarakat nelayan, pulau ini tidak memiliki arti besar selain seonggok karang besar, dan pada bagian ujung baratnya ditumbuhi pepohonan kelapa dan tumbuhan pantai nan rimbun lainnya. Namun akan lain halnya bagi mereka yang suka dengan sesuatu yang unik, pulau ini justeru menjadi sesuatu hal yang menarik. (wikipedia)

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Pulau Keong
Puncak Lawang

Puncak Lawang

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Puncak Lawang

Puncak Lawang - Puncak Lawang merupakan nama suatu puncak dataran tinggi di Kabupaten Agam Sumatera Barat. Dari tempat ini, kita bisa meihat birunya Danau Maninjau. Puncak Lawang terletak di Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Ini daerah puncak menuju Danau Maninjau. Dari sini kita dapat melihat pemandangan Danau Maninjau secara utuh

Puncak Lawang berada di 1.210 mdpl. Di zaman penjajahan, tempat ini digunakan sebagai tempat peristirahatan bangsawan Belanda. Puncak Lawang sering digunakan untuk kejuaraan olahraga paralayang kelas internasional karena merupakan salah satu spot terbaik di Asia Tenggara. Untuk mencapai kawasan Puncak Lawang, kita akan melewati perjalanan dengan 44 belokan yaitu Kelok 44.

Paragliding di Puncak Lawang

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Puncak Lawang
Ngarai Sianok

Ngarai Sianok

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Ngarai Sianok

Ngarai Sianok - Ngarai Sianok adalah sebuah lembah curam (jurang) yang terletak di perbatasan kota Bukittinggi, di kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Lembah ini memanjang dan berkelok sebagai garis batas kota dari selatan ngarai Koto Gadang sampai ke nagari Sianok Anam Suku, dan berakhir di kecamatan Palupuh. Ngarai Sianok memiliki pemandangan yang sangat indah dan juga menjadi salah satu objek wisata andalan provinsi.

Ngarai Sianok yang dalam jurangnya sekitar 100 m ini, membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 m, dan merupakan bagian dari patahan yang memisahkan pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang (patahan Semangko). Patahan ini membentuk dinding yang curam, bahkan tegak lurus dan membentuk lembah yang hijau—hasil dari gerakan turun kulit bumi (sinklinal)—yang dialiri Batang Sianok (batang berarti sungai, dalam bahasa Minangkabau) yang airnya jernih. Di zaman kolonial Belanda, jurang ini disebut juga sebagai karbouwengat atau kerbau sanget, karena banyaknya kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai ini.

Ngarai Sianok

Batang Sianok kini bisa diarungi dengan menggunakan kano dan kayak yang disaranai oleh suatu organisasi olahraga air "Qurays". Rute yang ditempuh adalah dari nagari Lambah sampai jorong Sitingkai nagari Palupuh selama kira-kira 3,5 jam. Di tepiannya masih banyak dijumpai tumbuhan langka seperti rafflesia dan tumbuhan obat-obatan. Fauna yang dijumpai misalnya monyet ekor panjang, siamang, simpai, rusa, babi hutan, macan tutul, dan juga tapir. (wikipedia)

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Ngarai Sianok
Museum Tri Daya Eka Dharma

Museum Tri Daya Eka Dharma

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Museum Tri Daya Eka Dharma

Museum Tri Daya Eka Dharma - Museum Tridaya Eka Dharma adalah salah satu museum yang ada di Sumatera Barat yang terletak di kota Bukittinggi, tepatnya di jalan Panorama No. 24, kelurahan Kayo Kubu, kecamatan Guguk Panjang, Bukittinggi. Museum ini diresmikan oleh Mohammad Hatta, pada tanggal 16 Agustus 1973. Museum yang memiliki koleksi ratusan senjata jaman perang ini terbuka untuk masyarakat umum.

Sejarah
Museum ini dahulunya adalah rumah peristirahatan Gubernur Sumatera. Pendirian museum ini digagas oleh Brigjen Widodo, salah seorang pimpinan TNI wilayah Sumatera Tengah. Gagasan tersebut kemudian dilanjutkan oleh Brigjen Soemantoro dan diresmika menjadi museum pada tanggal 16 Agustus 1973.

Museum Tridaya Eka Dharma

Museum ini diberi nama Museum Perjuangan Tridaya Eka Dharma yang artinya tiga unsur kekuatan satu pengabdian. Nama ini bisa dikaitkan dengan falsafah Minang "Tigo Tungku Sajarangan". Museum ini didirikan sebagai sarana komunikasi antara generasi dan sebagai pewaris semangat juang dan nilai-nilai kepahlawanan.

Dipilihnya kota Bukittinggi sebagai tempat berdirinya museum ini dikarenakan kota Bukittinggi pernah menjadi ibukota provinsi Sumatera dan ibukota negara Republik Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Koleksi
Berbagai benda-benda bersejarah terdapat di Museum ini, diantaranya senapan laras panjang, senapan laras pendek, meriam, amunisi, granat, perlengkapan perang, pemancar radio, alat penerima sinyal, telepon dan juga pakaian para tentara Indonesia dan tentara asing.

Bukan hanya itu dokumentasi saat berperang adapula seperti foto kepemimpinan para jendral, lokasi penyekapan para pahlawan revolusi, serta foto para presiden Indonesia dari tahun 1945-2004.

Pada bagian luar museum terdapat pula Pesawat Terbang AT-16, Harvard B-419 buatan Amerika Serikat yang dulunya digunakan dalam penumpasan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia di Sumatera Tengah tahun 1958, yang dioperasikan di Solok, Indarung, Bukittinggi dan Payakumbuh. Setelah habis masa terbangnya, pesawat terbang tersebut disimpan di depotlogistik di Lanud Hussein Sastra Negara di Bandung oleh Staf Angatan Udara. Kemudian, pada tahun 1973 diserahkan ke Museum Tridaya Eka Dharma untuk dijadikan benda koleksi. (wikipedia)

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Museum Tri Daya Eka Dharma
Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka - Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka adalah museum yang terletak di sekitar tepian Danau Maninjau, tepatnya di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Museum ini mulai dibangun pada tahun 2000 dan diresmikan pada tahun 2001 oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu, Zainal Bakar. Sesuai dengan namanya, museum ini mengkhususkan diri pada koleksi benda-benda peninggalan Buya Hamka, yang bangunannya merupakan rumah yang ditempati Hamka sejak lahir hingga sebelum pindah ke Padang Panjang.

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka terletak pada ketinggian yang lebih tinggi 5 meter dari jalan raya di sekitarnya. Museum ini menghadap ke arah barat atau Danau Maninjau dan membelakang ke arah timur. Museum ini memiliki bentuk arsitektur layaknya Rumah Gadang dengan atap bergonjong dan hiasan ukiran Minang.


Museum ini mulai dibuka pukul 8.00 hingga pukul 15.00 waktu setempat. Namun biasanya akan tetap dibuka untuk sementara waktu meski pengunjung melewati batas waktu kunjungan. Dari sekian orang yang mengunjungi museum ini, kebanyakan mereka bukan orang Indonesia, melainkan dari Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Sejarah
Bangunan museum ini sebelumnya merupakan rumah yang ditempati Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau akrab dipanggil Hamka sejak lahir hingga sebelum pindah ke Padang Panjang. Rumah milik nenek Hamka tersebut hampir diluluhlantakan pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Setelah sekian lama, pada tahun 2000 muncul gagasan dari Gubernur Sumatera Barat, Zainal Bakar untuk membangun kembali rumah tersebut dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya lalu menjadikannya sebagai museum. Dengan bantuan dana dari berbagai pihak baik yang ada di Sumatera Barat maupun diluar Sumatera Barat terutama Malaysia, dalam waktu 11 bulan pembangunan museum ini dapat diselesaikan dan diresmikan oleh Zainal Bakar pada tanggal 11 November 2001.

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka
Museum Kereta Api Sawahlunto

Museum Kereta Api Sawahlunto

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Museum Kereta Api Sawahlunto

Museum Kereta Api Sawahlunto - Museum Kereta Api Sawahlunto dahulunya adalah sebuah stasiun kereta api di Sawahlunto yang termasuk ke dalam Divisi Regional 2 Sumatera Barat, dan merupakan salah satu stasiun terminus yang ada di Sumatera Barat. Meseum ini terletak di kelurahan Pasar, kecamatan Lembah Segar, kota Sawahlunto.

Stasiun Sawahlunto

Sejarah
Pada tanggal 17 Desember 2005, Stasiun Sawahlunto diubah fungsinya menjadi museum, dan diresmikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Muhammad Jusuf Kalla. Dengan demikian, Indonesia memiliki 2 museum kereta api, dengan yang pertama ada di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Koleksi
Museum ini memiliki koleksi berjumlah 106 buah yang terdiri dari gerbong (5 buah), lokomotif uap (1 buah), jam (2 buah), alat-alat sinyal atau komunikasi (34 buah), foto dokumentasi (34 buah), miniatur lokomotif (9 buah), brankas (3 buah), dongkrak rel (5 buah), label pabrik (3 buah), timbangan (3 buah), lonceng penjaga (1 buah), dan baterai lokomotif (2 buah).

Kereta api
  • Wisata Danau Singkarak: ke Padang Panjang
  • Wisata Mak Itam: ke Muara Kalaban
paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Museum Kereta Api Sawahlunto
Museum Adityawarman

Museum Adityawarman

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Museum Adityawarman

Museum Adityawarman - Museum Adityawarman adalah salah satu museum di Sumatera Barat yang terletak di kota Padang, tepatnya di Jalan Diponegoro No. 10, kecamatan Padang Barat. Museum ini diresmikan pada 16 Maret 1977 oleh Mendikbud, Prof. Dr. Syarif Thayeb. Museum ini berada di bawah wewenang pemerintah daerah provinsi Sumatera Barat.

Museum ini menggunakan nama salah seorang raja yang pernah berkuasa di Malayapura yaitu Adityawarman dengan masa pemerintahan antara 1347-1375.

Museum Adityawarman dengan gaya arsitektur Rumah Gadang

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Museum Adityawarman

Tuesday, April 16, 2013

Lubang Jepang Bukittinggi

Lubang Jepang Bukittinggi

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Lubang Jepang Bukittinggi

Lubang Jepang Bukittinggi - Lubang Jepang Bukittinggi adalah salah satu objek wisata sejarah yang ada di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Lubang Jepang merupakan sebuah terowongan (bunker) perlindungan yang dibangun tentara pendudukan Jepang sekitar tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan.

Sejarah
Sebelumnya, Lubang Jepang dibangun sebagai tempat penyimpanan perbekalan dan peralatan perang tentara Jepang, dengan panjang terowongan yang mencapai 1400 m dan berkelok-kelok serta memiliki lebar sekitar 2 meter. Sejumlah ruangan khusus terdapat di terowongan ini, di antaranya adalah ruang pengintaian, ruang penyergapan, penjara, dan gudang senjata.


Selain lokasinya yang strategis di kota yang dahulunya merupakan pusat pemerintahan Sumatera Tengah, tanah yang menjadi dinding terowongan ini merupakan jenis tanah yang jika bercampur air akan semakin kokoh. Bahkan gempa yang mengguncang Sumatera Barat tahun 2009 lalu tidak banyak merusak struktur terowongan.

Diperkirakan puluhan sampai ratusan ribu tenaga kerja paksa atau romusha dikerahkan dari pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan untuk menggali terowongan ini. Pemilihan tenaga kerja dari luar daerah ini merupakan strategi kolonial Jepang untuk menjaga kerahasiaan megaproyek ini. Tenaga kerja dari Bukittinggi sendiri dikerahkan di antaranya untuk mengerjakan terowongan pertahanan di Bandung dan Pulau Biak.

Objek Wisata
Lubang Jepang mulai dikelola menjadi objek wisata sejarah di tahun 1984, oleh pemerintah kota Bukittinggi. Beberapa pintu masuk ke Lubang Jepang ini diantaranya terletak pada kawasan Ngarai Sianok, Taman Panorama, di samping Istana Bung Hatta dan di Kebun Binatang Bukittinggi.

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Lubang Jepang Bukittinggi
Kelok 44

Kelok 44

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Kelok 44

Kelok 44 - Kelok 44 adalah kelokan yang terdapat di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kelok 44 merupakan daerah perbukitan berada di di atas Danau Maninjau yang dilingkari jalan yang berkelok dilerengnya.

Kelok 44 merupakan tikungan berjumlah 44 belokan. Itu sebabnya rute ini dinamakan Kelok Ampek Puluh Ampek. Setiap kelokan memang patah. Setiap kelok itu diberi nomor berurut. Sepanjang perjalanan dari bukittinggi menuju danau ini, para wisatawan akan disuguhin pemandangan yang sangat indah berupa sawah-sawah yang berbentuk terasiring, pancuran-pancuran air dari sungai yang bertingkat-tingkat, serta hijaunya deretan Bukit Barisan. Kelok 44 juga merupakan ikon dalam balap sepeda Tour de Singkarak.

Kelok 44 saat dilewati rombongan Tour de Singkarak

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Kelok 44
Kebun Binatang Bukittinggi atau Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan

Kebun Binatang Bukittinggi atau Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Kebun Binatang Bukittinggi atau Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan

Kebun Binatang Bukittinggi atau Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan - Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan atau yang lebih dikenal dengan nama Kebun Binatang Bukittinggi adalah salah satu kebun binatang di pulau Sumatera, yang terletak di atas Bukit Cubadak Bungkuak Bukittinggi, provinsi Sumatera Barat, Indonesia.

Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan ini juga merupakan salah satu kebun binatang tertua yang ada di Indonesia, dan satu-satunya di Sumatera Barat, dengan koleksi hewan terlengkap di pulau Sumatera.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan Bukittinggi

Sejarah

Kebun binatang ini dibangun oleh pemerintahan Hindia Belanda ditahun 1900-an, dengan nama Stormpark (Kebun Bunga). Pembangunan kebun binatang ini dirancang oleh Gravenzande, Controleur belanda yang bertugas di kota Bukittinggi pada waktu itu. Pada awal pembangunannya, Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan ini hanya berupa taman yang belum mempunyai koleksi binatang, kemudian beberapa koleksi hewan mulai dimasukkan kedalam taman tersebut, dan barulah pada tahun 1929 tepatnya pada tanggal 3 Juli taman ini dijadikan kebun binatang dengan nama Fort De Kocksche Dieren Park atau Kebun Binatang Bukittinggi oleh Dr. J. Hock.

Pada tahun 1935, di area kebun binatang ini dibangun Rumah Adat Baanjuang (Rumah gadang) bergonjong gajah maharam, yang mempunyai 9 ruang dengan anjungannya di bagian kanan dan kiri.

Kemudiannya lagi, terjadi perubahan nama dari Fort De Kocksche Dieren Park menjadi Taman Puti Bungsu. Dan pada tahun 1995 melalui peraturan daerah No. 2 Tahun 1995 juga terjadi perubahan nama dari Taman Puti Bungsu menjadi Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan.

Objek Wisata

Kebun binatang yang juga menjadi objek wisata andalan di kota Bukittinggi ini dihubungkan oleh Jembatan Limpapeh dengan objek wisata benteng Fort de Kock. Letaknya yang tidak jauh dari pusat kota, menjadikan kebun binatang ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang mengunjungi kota Bukittinggi.

paketours.blogspot.com > pariwisata > objek wisata > Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan